Rabu, 19 Maret 2014

RHOMA IRAMA CAPRES 2014

dengan dipost nya artikel ini adalah untuk memenuhi tugas softskill bahasa indonesia 2 mengenai partai politik 2014

Biodata singkat Rhoma Irama

Nama : Rhoma Irama
Tempat, tanggal lahir : Tasikmalaya, 11 Desember 1946
Profesi : penyanyi, musisi dangdut
Diskografi:
Album film: Lebih dari 26 film, mulai film Oma Irama Penasaran hingga Sajadah Ka'bah.
Album Melayu Bersama Soneta Group:
Soneta Volume I Begadang (1973) hingga Soneta Volume 18 Azza (2011)
Album SoloPemilu (1982) hingga Ukhuwah (2011)
Penghargaan:
The South East Asia Superstar Legend di Singapura (2007)
Lifetime Achievement Awards, 2011, SCTV (2011)

Dalam berbagai kesempatan, Rhoma menyatakan bahwa pilihannya terjun dalam perebutan kursi presiden, karena "adanya desakan dari kalangan umat."
"Saya juga bersedia (menjadi bakal calon presiden) karena ada keterpanggilan," kata Rhoma yang telah membintangi lebih dari 25 film.
Ketika saya bertanya kenapa dia tidak mendalami saja dunia musik yang dianggapnya efektif untuk menyampaikan pesan moral, Rhoma mengatakan "tapi jauh lebih efektif menjadi eksekutif."
Menurutnya, kalau semata bermain musik, kurang berdampak kepada perubahan.
"(Kalau bermain musik) nggak bisa bikin UU, nggak bisa bikin peraturan," katanya seraya tergelak. "Cuma sampai pada himbauan saja."
Tapi, "Kalau kita sebagai eksekutif, bisa memerintah, bisa mengatur negara."

Musisi dangdut Rhoma Irama memilih jalur politik karena dianggap efektif melakukan perubahan ketimbang 'berpolitik' lewat musik semata.
Samar-samar lagu dangdut “Darah Muda”, yang pernah dinyanyikan Rhoma Irama di tahun 1970-an, menggema di aula Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, pagi itu.
Di aula kampus UI Salemba, Jakarta pusat, lagu tersebut memang di putar berulang-ulang.
Padahal pagi itu, akan digelar seminar dengan tema “berat” yaitu tentang kepemimpinan nasional.
Rupanya, lagi itu diputar berulang-ulang untuk “menyambut” penyanyi dangdut terkenal Rhoma Irama, yang didaulat sebagai pembicara.
Seri diskusi yang digelar Dewan guru besar UI ini, Jumat, 20 Desember 2013 lalu, selain menghadirkan “Bang Haji”, juga mendatangkan sejumlah nama yang disebut-sebut menjadi bakal calon kuat presiden.
Raja dangdut ini, seperti diketahui, telah disebut sebagai salah-satu bakal calon presiden dari Partai Kebangkitan Bangsa, PKB. Di dalam seminar itu, pria kelahiran 1946 itu dicecar berbagai pertanyaan dari dua orang guru besar FE UI dan perwakilan aktivis mahasiswa UI, termasuk beberapa pertanyaan "sulit".
Misalnya saja, dia ditanya, apa resep mujarab yang akan dilakukannya -- jika terpilih sebagai presiden -- untuk mengatasi kemerosotan nilai Rupiah atas Dollar Amerika Serikat.
Rhoma memberikan jawaban antara lain dengan mengutip sejumlah istilah ekonomi yang barangkali tidak dipahami sebagian penggemarnya di pelosok Indonesia.

Three in One
Usai memberikan jawaban, tepuk tangan pun terdengar dari kursi peserta seminar, termasuk dari puluhan orang yang mengaku sebagai penggemar setia Bang Haji -- sebutan akrab Rhoma Irama. Rhoma Irama pernah menjadi juru kampanye Partai Golkar di masa Orde Baru."Saya katakan, bahwa politik, agama, seni buat saya three in one. Jadi, saya harus tahu (berbagai persoalan umum) bukan ketika mencapreskan diri," kata Rhoma Irama, ketika saya tanya berapa lama dia membutuhkan waktu untuk mempelajari persoalan ekonomi mikro.
Menurutnya, sejak merintis karir di dunia musik dangdut, dia sudah bersentuhan dengan persoalan ekonomi dan agama.
Dia kemudian menyebut sejumlah lagunya yang disebutnya bertema tentang kritik sosial dan politik, selain percintaan. "Tentang politik, saya telah mengajak Bangsa Indonesia untuk menghormati hak asasi manusia pada tahun 1977," katanya, seraya kemudian menyanyikan beberapa baris lirik lagu itu.

"Saya sudah melakukannya sejak berdirinya Soneta, melalui takbir akbar dam main musik. Jadi, di dalam politik, saya tidak perlu bermetamorfosis dari penyanyi menjadi politisi."
Mantan politisi PPP dan Golkar ini juga mengaku sudah lebih dari 40 tahun melakukan "blusukan" ke pelosok Indonesia."Saya sudah melakukannya sejak berdirinya Soneta, melalui takbir akbar dam main musik," katanya."Jadi, di dalam politik, saya tidak perlu bermetamorfosis dari penyanyi menjadi politisi," kata Rhoma, yang sempat kuliah di Fakultas Sosial Politik, Universitas 17 Agustus, namun hanya bertahan setahun.
Pernyataan Rhoma ini jelas untuk menangkis "serangan" lawan politiknya atau pihak-pihak yang selama ini meremehkan tentang keseriusannya menjadi bakal calon presiden.
'Mengatur negara'
Ketika pada November 2013 lalu, Rhoma Irama menyatakan siap bersaing memperebutkan kursi presiden melalui Pemilu 2014, sebagian masyarakat Indonesia dibuat terkejut.
Dimanfaatkan PKB?
Sejauh ini belum ada partai politik yang benar-benar serius mengusung Rhoma sebagai calon presiden, walaupun Partai Kebangkitan Bangsa, PKB sudah menyatakan ketertarikannya terhadap dirinya.
Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa partainya akan mengusungnya sebagai calon presiden, kendati nama lain seperti Yusuf Kalla dan Machfud MD juga disebut-sebut di internal partai tersebut.
Rhoma Irama saat berkhotbah pada sebuah sholat jumat di masjid UI Salemba, Jakarta.
Pengamat politik dan peneliti LIPI, Siti Zuhroh mengatakan, Rhoma Irama lebih cocok untuk menjadi vote getter (pencari suara) PKB ketimbang sebagai bakal calon presiden partai tersebut.
"Dan itu yang ditangkap PKB untuk membantu bagaimana mendongkrak elektabilitasnya menjelang pemilu legislatif, ketimbang sungguh-sungguh mencalonkan yang bersangkutan (Rhoma Irama) sebagai calon presiden," kata Siti Zuhroh.
Apa tanggapan Rhoma? "Saya melihat pengamatan itu sangat salah."
Menurutnya, sejauh ini sudah ada komitmen antara dirinya dengan DPP PKB untuk mengusungnya sebagai calon presiden.

Anda disebut menciptakan hampir 1000 lagu, dan sebagian telah menjadi legenda. Apa kata kunci sehingga bisa melakukan ini semua?

Syaratnya adalah unsur-unsur di dalam musik itu harus betul-betul kawin, harmoni. Mereka harus kawin antara lirik, aransemen, beat, cara pembawaan, itu harus betul-betul harmoni, baru akan menghasilkan musik yang betul-betul menjadi santapan telinga, audio yang bisa dinikmati. Dan dia bisa memotivasi bahkan pendengarnya kemana arah tujuan lirik itu. Dia bisa termotivasi.

Bisa bercerita karya anda berdasar kisah nyata anda?

Misalnya, Begadang (Rhoma Irama tertawa). Karena waktu itu saya selalu begadang dengan teman-teman dan ada teman saya meninggal karena lever akibat terlalu banyak begadang. Dari situ saya termotivasi, terinspirasi membuat lagu bedagang. Itu spontan ketika terjadi ketika teman meninggal dunia.

Lagu yang bertema romansa?

Oh, kalau itu banyak yang kisah nyata.. ha-ha-ha.

Yang bertema sosial pasti tidak sedikit ya?

Kalau dari pengalaman masyarakat, misalnya lagu "Judi." Judi itu saya melakukan observasi bertahun-tahun. Apa untung ruginya judi buat masyarakat. Baru saya buat lagu Judi, itu lagu terlama yang pernah saya ciptakan. (Rhoma Irama lantas menyanyikan sebagian lirik lagu Judi)

Jadi sebagian karya anda itu berlatar ajaran moral?

Oh, pasti. Jadi ternyata musik itu efektif untuk tujuan-tujuan ini. Dan saya pernah resah di kehidupan musik ini. Kenapa main musik nggaksholat, kenapa harus mabuk-mabukan. Dulu identik. Sementara saya suka seni. Tetapi kenapa seperti lumpur dosa.

Maka saya mohon kepada Allah: Ya Allah, seandainya engkau hanya memperlebar jalanku ke neraka dengan musik ini, tolong hentikan bakat musik yang ada di dadaku, tolong dicabut.

Tetapi seandainya musik ini bisa bermanfaat untuk memperbaiki orang, tolong saya diberi bimbingang.

Apakah penyikapan ini membuat anda berseteru dengan artis musik dangdut?

Yang saya counter bukan orangnya, tapi actionnya. Karena saat itu bukan saya yang pertama. Yang pertama memprotes itu ulama. Sementara goyang itu dalam dangdut itu ada dua. Yang pertama, goyang yang berbasis pada estetika dan koreografik ada goyang yang berbasis pada erotism.

Dulu sebelum ada tokoh ini, tidak ada erotisme di dalam dangdut. Saya ambil contoh, yang namanya Elvie Sukaesih, Camelia Malik, berpuluh tahun mereka menggoyang itu panggung dangdut, 'nggakada kontroversi. Karena goyang mereka itu goyang estetika, menari, yang kaitannya dengan nilai estetik dan koreografik.

Jadi, indah, tetapi yang satu ini tiba-tiba tampil dengan erotisme yang memancing selera rendah.

Bagaimana anda bisa menjaga energi di tengah kesibukan. Anda tadi berpidato, berkhotbah, dan sekarang menuju ke Semarang?

Yaitu dengan pola makan sehat, pola hidup sehat. Olahraga misalnya. Saya berenang, main silat. Kalau silat itu tiap hari di mana pun. Begitu bangun tempat tidur, "bet, bet!" (Rhoma sambil mengerakkan tangan), itu paling praktis, paling efektif juga.

Anda sempat membaca buku?

Oh ya harus. Bacaan saya Al-Quran, Hadist, koran.

Dari kesekian lagu anda, ada satu yang masuk kategori hebat di mata anda?

Lagu "Judi" itu Masya Allah saya dibanned (dilarang) TVRI diantaranya karena lagu itu. Maka lagu judi itu lagu perjuangan.

Lagu itu lahir dengan latar seperti apa?

Saat pemerintah membuat judi 'porkas' untuk olah raga.

Anda sekarang tampil serba putih sekarang ini, mungkin ada motivasi tertentu?

Karena tadi maksud saya mau sekalian khotbah. Ini pakaian khotbah ha-ha-ha...

Anda biasa mengenakan jas?

Nggak juga. Saya paling nggak suka pakai dasi.Kecekik, nggak enak.. Ha-ha-ha.

Saya jadi ingat dulu anda saat bermain musik di panggung sering mengenakan baju dengan memperlihatkan dada anda? Itu bagian dari aksi panggung?

Oh, 'nggak. Itu secara psikologis, secara psikis, ini leher saya ini pendek. Jadi kalau pakai baju itu kerahnya sampai sini (sambil memegang leher), kancing dibuka sampai di sini. Sementara saya adalah seorang performer. Performer itu harus good looking, kira-kira ya. Jadi bukan dalam konteks dada.. Ha-ha-ha... Supaya lehernya agak panjang. Makanya kancingnya saya buka satu. Lega begitu. Rasanya lapang.
"Tidak mungkin, misalnya, Muhaimin, PKB mau mempermainkan saya, (jika benar mempermainkan saya) berarti mempermainkan umat, mempermainkan ulama, para habaib, para tokoh-tokoh."
Pada pemilu legislatif 2009 lalu, perolehan suara PKB sekitar lima persen, sehingga mereka gagal mengajukan calon presiden sendiri.
Kini menghadapi Pemilu 2014 ini, PKB dan partai lainnya harus "bekerja keras" untuk meraih sebesar 20 persen kursi DPR, apabila ingin mengajukan capres.
Rhoma dan poligami
Sebagai musisi kondang yang sudah malang-melintang lebih dari 40 tahun, perjalanan hidup Rhoma Irama tidak terlepas dari kontroversi.
Pilihannya untuk berpoligami, misalnya, telah menyulut cibiran sebagian masyarakat Indonesia.
Setelah menikahi Veronica awal tahun 1970-an dan memiliki tiga anak, Rhoma menikahi Ricca Rachim pada 1984. Setahun setelah pernikahan ini, Rhoma dan Veronica resmi bercerai.
Di awal 1990-an, menurut penulis Moh. Shofan dalam buku berjudul Rhoma Irama, Politik dakwah dalam Nada (2014), raja dangdut ini menikah lagi dengan Marwah Ali.
Dari pernikahan ini, mereka dikarunai dua anak, yaitu Ridho Rhoma dan Nazela.
Seperti dikutip dalam buku karangan Moh. Shofan, awal 2000, 'Satria Bergitar' -- judul film yang dibintangi dirinya -- ini menikah kembali dengan gadis asal Solo bernama Gita Andini Saputri, dan dikaruniai seorang anak.
Tiga tahun kemudian, Rhoma menikah lagi dengan aktris Angel Lelga, yang tidak berlangsung lama.
Apakah sikap anda berpoligami dan menimbulkan cibiran masyarakat tidak membuat anda terganggu saat maju sebagai bakal calon presiden? Tanya saya.
"Sama sekali tidak. Kenapa? Poligami itu sesuatu yang halal, bukan sebuah dosa, bukan cacat moral, bukan cacat politik, bukan cacat integritas," kata Rhoma Irama, berulang-ulang.
Sebaliknya, "Kalau kita tukang main perempuan, misalnya, itu cacat moral. Tapi kalau kawin, poligami, itu sesuatu yang halal yang dibenarkan oleh agama."
"Saya tidak terganggu karena sebagai superstar, mohon maaf, saya ini orang yang dikejar-kejar perempuan. Lumrah kalau seorang superstar. Bukan mengejar perempuan," katanya lebih lanjut.
Revolusi musik dangdut
Di tengah derasnya aliran musik rock di awal tahun 1970-an, Rhoma Irama melakukan revolusi dangdut, demikian tulis Moh. Shofan dalam buku berjudul Rhoma Irama, Politik dakwah dalam Nada (2014).
"Dia mengatur strategi agar dangdut equaldengan rock. Dia mengatur strategi untuk mengakomodasikan dangdut dengan realitas musik pada zamannya," kata Moh. Shofan.
Menurutnya, Rhoma saat itu merasakan cibiran penikmat musik rock kepada orkes Melayu.
"Inilah yang memacunya mengembangkan orkes Melayu menjadi dangdut," ungkapnya, lebih lanjut.
Dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Rhoma Irama mengatakan, revolusi "dari orkes Melayu ke dangdut" membuat dangdut saat ini telah diterima di dunia internasional.
"Di Amerika Serikat, sudah banyak grup-grup dangdut, termasuk yang dipimpin oleh Profesor Andrew N Weintraub, 'dangdut koboi', misalnya. Kemudian di Jepang tumbuh macam-macam grup dangdut," ungkapnya.
Andrew Weintraub, pengajar pada departemen musik etnik di Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, setelah mendapat kesempatan meneliti dan kemudian menulis disertasi tentang jenis musik melayu ini.
Efek Deep Purple
Saat itu, Rhoma melalui gruk musik pimpinannya Soneta kemudian memasukkan napas hard rock ke dalam komposisi lagu Melayu.
Hal ini tidak terlepas pula dari kehadiran grup musik Rock terkenal saat itu seperti Deep Purple dan Led Zeppelin, yang menurut pengamat musik Bens Leo, "digemari Rhoma Irama."
Hasil penelitian Andrew N Weintraub, yang kemudian diterjemahkan oleh Arif Bagus Prasetyo (2012), menunjukkan bahwa lagu-lagu Deep Purple berpengaruh besar terhadap pada musik Rhoma.
Dalam situasi seperti itulah, menurutnya, Rhoma Irama kemudian memasukkan alat musik saksofon, gitar listrik, atau trompet di dalam aktivitas musiknya.
"Sehingga orang menyebut Rhoma adalah musisi yang eksploratif, dan pilihannya adalah dangdut versi Rhoma Irama," kata Bens Leo dalam wawancara dengan BBC Indonesia
Karena itulah, menurutnya, "Rhoma Irama adalah pembuat revolusi dan modernitas musik dangdut."
Sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2014/01/140107_tokoh_desember_2013_rhoma_irama.shtml

Tidak ada komentar:

Posting Komentar