Senin, 17 Maret 2014

KRISIS POLITIK DI UKRAINA TERHADAP PEREKONOMIAN UNI EROPA

Takdir Geopolitik Ukraina
 Dalam bahasa Slavia, ukraina artinya "daerah perbatasan". Sebagai serpihan negara bekas Uni Soviet, takdir (geografi)-nya terletak di Eropa Timur. Ukraina berbatasan dengan Rusia di sebelah timur (laut) dan UE di barat (laut). Lebih lengkap, ia berdekatan dengan Belarus di utara; kemudian dengan Polandia, Slowakia dan Hongaria di barat; Rumania dan Moldavia di barat daya; dan Laut Hitam, Laut Azov di selatan dan seterusnya. Mereka berbahasa Ukraina serumpun dengan bahasa Rusia.

Dari sisi geostrategi, Ukraina boleh disebut buffer zone atau daerah penyangga para adidaya terutama Rusia dan Barat cq UE ---karena faktor ideologi---dari zaman dulu memang saling berebut pengaruh. Inilah takdir geopolitik yang melekat semenjak ia lahir sebagai negara.

Kadar urgensi Ukraina di kawasan tersebut, sebenarnya tak bisa dilepas dari peran masa lalunya ketika tergabung dalam Uni Soviet. Peran kunci tadi bukan terhadap Soviet  ---selaku negara induk--- semata, namun juga bagi negara-negara Pakta Warsawa lainnya. Selain kaya akan sumber daya alam, seperti biji besi, batu bara, logam warna, gas, minyak, garam, tanah liat, dll ia juga memproduksi pesawat dan kapal laut, truk dan bis, mobil dan lokomotif, TV dan radio, zat kimia, tekstil, komputer dan peralatan elektronik, mesin pertanian, dan lain-lain.

Peran penting lainnya, selain pengekspor listrik ke Eropa Timur (hingga kini) dan negara sekitar seperti Hungaria, Lithuania, Belarus, Polandia, dll sebagian hulu ledak nuklir milik Sovyet dahulu ditempatkan di Ukraina. Itulah posisi strategis di tengah tarik menarik kekuatan Blok Timur dan Blok Barat tempo doeloe (1949-1991).

Retorikanya adalah: mungkinkah (posisi) geostrategi ini yang diperebutkan oleh dua adidaya di atas? Boleh jadi. Namun ada hal lebih urgen selain itu.  

Geopolitic of Pipeline dan Senjata Gas

Peran pokok Ukraina sebagai buffer zone sesungguhnya lebih kepada geopolitic of pipeline (jalur pipa). Ini dia. Sepertinya, “nasib” Ukraina mirip geopolitik Syria yang direbutkan para adidaya Barat dan Timur akibat selain faktor geostrategy position di Jalur Sutera, namun lebih utama karena keberadaan jalur pipanya. Betapa aliran pipa gas dan minyak yang melewati Syria bersifat antar negara, menembus benua bahkan lintas kawasan. Setidaknya, demikian pula jalur pipa gas Ukraina meski “skala”-nya relatif tak besar jika dibandingkan Syria.

Urgensi daerah penyangga contohnya, sewaktu Putin menghentikan gas yang mengalir melalui pipa di Ukraina pada 1 Januari 2006 ketika terjadi sengketa gas (2006-2009) antara Rusia – Ukraina, ternyata berdampak sangat luas lagi dahsyat. Tidak hanya Ukraina yang menjerit kekurangan gas, tetapi merata di seluruh Eropa berteriak kurang pasokan sebab penutupan pipa gas dimaksud. Kenapa demikian, betapa 80% jalur ekspor gas Rusia menuju Eropa melalui lintasan jalur pipanya Ukraina. Ketika diputus pada “titik simpul”-nya, niscaya menjerit negara konsumen di hilir jalur pipa. Dalam konteks ini, Ukraina merupakan simpul jalur gas, sedang UE dan negara sekitarnya berada di bagian hilir. Inilah gas weapon (senjata gas)-nya Beruang Merah, sebutan lain Rusia.

Latvia misalnya, sangat tergantung 100% pada gas Rusia termasuk diantaranya Slovakia, Estonia dan Finlandia. Untuk Bulgaria, Lithuania dan Czech Republik bergantung lebih 80%. Sedang yang bergantung 60% antara lain Yunani, Austria dan Hongaria. Itulah data yang nyata. Ketergantungan UE atas gas Rusia mencapai 80% lebih. Dan betapa riskan ketika aliran gas untuk UE dari Rusia mutlak harus melalui jalur pipa di Ukraina.

Tak dapat dipungkiri memang, Rusia adalah negara penghasil gas terbesar di dunia, kendati untuk produksi minyak merupakan terbesar kedua setelah Saudi Arabia. Sekedar informasi tambahan. Sekali lagi, inilah ujud gas weapon yang dimiliki oleh Rusia guna “mengendalikan” Ukraina dan negara net gas importer di sekitarnya.

Pointers Simpulan

Setelah membaca, menyimak dan mencermati kecamuk politik di Ukraina sebagaimana uraian di atas, sekurang-kurangnya diperoleh pointers guna menyudahi artikel sederhana ini. Antara lain:

Pertama: bahwa medan Ukraina sesungguhnya cuma proxy war atau lapangan tempur, karena hakiki yang berperang ialah Rusia versus kekuatan Barat (AS dan NATO) dalam upaya tebar dan tancapkan hegemoni baik di parlemen, pada elit pemerintahan maupun melalui aksi-aksi massa di jalanan;

Kedua: menguak hidden agenda kubu oposisi ---sesuai prolog tulisan ini--- bahwa kesepakatan dengan UE sebagaimana aspirasi kelompok oposisi, tersirat sebagai langkah permulaan Barat mengintegrasikan Ukraina dengan UE. Maka kompromi politik cara apapun yang ditawarkan oleh Yanukovich kepada para demonstran pimpinan Arseniy Yatsenyuk, niscaya ditolak --- tak bakal diindahkan;

Ketiga: sebagaimana Arab Spring di Jalur Sutera, atau kiprah Revolusi Oranye dulu, apapun dalih (isue) yang diusung dalam aksi massa dan gerakan politik di Ukraina, (misi) tujuannya adalah redesign of power (ganti rezim);

Keempat: atas dasar pengalaman pemutusan gas (2006) oleh Putin melalui pipa Ukraina, bahwa kebijakan Presiden Yanukovich menerima bantuan finansial Rusia ---dekade kini --- dinilai sebagai keputusan tepat dan strategis terutama bagi kepentingan nasional Ukraina dan kawasan sekitarnya. Kenapa demikian, oleh karena kesepakatan perdagangan dengan UE selain belum jelas arah dan hasilnya, juga AS dan jajaran EU sendiri tengah dibelit krisis ekonomi tak kunjung usai;

Kelima: bahwa korban implementasi gas weapon ---diterapkan oleh Rusia di Ukraina awal 2006--- ternyata memiliki dampak lebih dahsyat daripada korban akibat senjata konvesional pada peperangan lazimnya. Betapa tanpa asap mesiu, tanpa letusan peluru, namun justru dinamika sosial ekonomi di kawasan net gas importer menjadi “berantakan” akibat kekurangan pasokan gas.  

Demikianlah bacaan sementara saya tentang badai politik yang kini melanda Ukraina, masih jauh dari akurasi kebenaran memang. Apa hendak dikata. Minimnya data, sempitnya wawasan, terutama keterbatasan kemampuan penulis merupakan kendala utama kenapa artikel ini bersifat nisbi, masih sangat terbuka untuk kritik dan saran guna perbaikan lebih lanjut.

Kontribusi ekonomi Ukraina terhadap dunia 

Meski Ukraina hanya menyumbangkan persentase kecil terhadap gross domestic product (GDP) dunia, namun nyatanya selama beberapa minggu ini krisis Ukraina menjadi sentimen negatif yang membebani pasar keuangan global, yang berimbas pada bursa-bursa di kawasan Asia. Tapi banyak analis menyebutkan bahwa dampak kisruh politik itu kecil tehadap ekonomi dunia.

"Ukraina hanya berkontribusi kecil pada GDP dunia, kira-kira seperempat dari 1 persen GDP dunia. Sehingga tidak mungkin akan membuat sesuatu yang "wow" di pasar global," ujar Bill Stone, Chief Investment Strategist PNC Asset Management Group

Pada Selasa 4 Maret lalu, harga saham-saham di Bursa Efek New York, memang merosot tajam pada sesi penutupan. Aksi provokatif Rusia yang menduduki Crimea, wilayah otonomi Ukrania, secara militer, memicu investor melakukan aksi jual. Dikutip dari CNBC, indeks S&P 500 dan indeks Dow Jones Industrial Average turun signifikan menjadi hari terburuk dalam sebulan terakhir. 

Beruntung pada hari berikutnya, 5 Maret 2014, setelah keluarnya pernyataan dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menegaskan bahwa negaranya tidak akan berperang dengan rakyat Ukraina, saham-saham di Bursa Efek New York, Amerika Serikat, kembali melonjak. 

Indeks Dow Jones Industrial Average dan indeks S & P 500 memantul kembali setelah merosot tajam ke level terburuk dalam sebulan terakhir. 
"Investor tampaknya telah dilatih menghadapi krisis geopolitik dalam beberapa tahun terakhir, seperti krisis Mesir dan  Suriah. Sehingga pasar saham bisa dengan cepat segera pulih," ujar Jeffrey Kleintop, Chief Market Strategist, LPL Financial.

Dan pada hari ini 17 Maret 2014,  karena kekhawatiran yang meningkat di kalangan investor terhadap situasi Ukraina setelah hasil referendum menunjukkan hasil bahwa Crimea memilih untuk bergabung dengan Rusia, pasar saham Asia mengawali transaksi pekan ini dengan kerugian. 

Indeks Nikkei di bursa Tokyo pagi tadi tergelincir 0,2 persen. Indeks acuan pasar saham Jepang ini kini berada pada level perdagangan 14.304,21. Saham Jepang merosot ke level terendahnya selama sebulan terakhir dalam dua sesi perdagangan berturut-turut. Sementara itu, indeks S&P ASX 200 di bursa Sydney melemah 0,2 persen. Indeks patokan pasar saham Australia ini kini berada pada level perdagangan 5.315,7 dan telah membukukan kerugian mingguan 2,7 persen Jumat pekan lalu.

Harga emas dunia rebound

Jika pasar saham dunia cemas dengan situasi Crimea dan itu sebabnya harga melandai dan turun, pasar emas dunia justru sedang riang. Sejumlah pengamat menyebutkan bahwa kian memanasnya krisis di Ukraina memicu investor mencari investasi yang lebih aman dan keluar dari pasar saham.

Seperti dikutip dari laman Marketwatch, pada Selasa 4 Maret 2014, imbas dari tindakan provokatif Rusia yang menduduki Crimea, harga emas berjangka untuk pengiriman April melonjak US$28,70 (2,2 persen) ke level US$1.350,30 per ounce di divisi Comex New York Mercantile Exchange. Menurut data FactSet, harga tersebut menjadi harga emas berjangka tertinggi sejak 28 Oktober tahun lalu. 

Jumat akhir pekan lalu, menjelang dilakukannya referendum, harga emas berjangka naik lebih dari 3 persen dalam sepekan terakhir. Harga kontrak emas untuk pengiriman April pada Jumat lalu naik lagi US$6,60 (0,5 persen) ke level US$1.379 per ounce di divisi Comex New York Mercatile Exchange. Menurut Factset, ini merupakan tingkat penutupan tertinggi sejak awal September lalu.

Selain emas, investor global mencari tempat paling aman bagi uang mereka selama krisis Ukraina. Mereka memburu obligasi treasury Amerika Serikat untuk 10 tahun, sehingga memicu imbal hasil obligasi itu turun. Saat Ukraina diambang perang dengan Rusia pada Selasa 4 Maret 2014, imbal hasil (yield) treasury untuk 10 tahun di Amerika Serikat turun 5 basis poin menjadi 2,602 persen.

sumber : 
http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=14629&type=99#.UygHYvl_vak
http://fokus.news.viva.co.id/news/read/489299-kisruh-crimea--seberapa-besar-efeknya-terhadap-ekonomi-dunia

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Akhir-akhir ini, kita banyak menemukan berbagai berita tentang kekerasan dalam rumah tangga
(KDRT) di berbagai media masa. Bahkan tidak jarang, kita menemukan KDRT di lingkungan kita. 
Akan tetapi, hal apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita sudah paham tentang lingkup KDRT 
itu sendiri sehingga dapat menghindari atau meminimalisir kejadian? 
Oleh karena itu, artikel berikut ini akan membahas tentang istilah dan siklus KDRT. Selain itu,
artikel ini akan membahas tentang karakter korban dan pelaku KDRT agar kita dapat
mencegah atau menghindari terjadinya KDRT di sekeliling kita.  

Definisi KDRT (UU No 23/2004, Pasal 1):
KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat 
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan atau 
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, 
atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Bentuk KDRT (Pasal 5):
Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam 
lingkup rumah tangganya, dengan cara: 
a. kekerasan fisik
b. kekerasan psikis
c. kekerasan seksual
d. penelantaran rumah tangga

Siklus kekerasan dalam KDRT
Relasi Personal sering disertai dengan siklus kekerasan, dengan pola berulang. Siklus 
kekerasan ini menyebabkan korban terus mengembangkan harapan dan mempertahankan
rasa cinta atau kasihan, membuatnya sulit keluar dari perangkap kekerasan. 

Siklus kekerasan umumnya bergulir sebagai berikut:
• Dimulai dengan individu tertarik dan mengembangkan hubungan
• Individu dan pasangan mulai lebih mengenal satu sama lain, “tampil asli” dengan 
   karakteristik dan tuntutan masing-masing, muncul konflik dan ketegangan.
• Terjadi ledakan dalam bentuk kekerasan
• Ketegangan mereda. Korban terkejut dan memaknai apa yang terjadi. Pelaku bersikap 
   ”baik” dan mungkin meminta maaf.
• Korban merasa ”berdosa” (bila tidak memaafkan), korban menyalahkan diri sendiri karena 
   merasa atau dianggap menjadi pemicu kejadian, korban mengembangkan harapan akan 
   hubungan yang lebih baik. 
• Periode tenang tidak dapat bertahan. Kembali muncul konflik dan ketegangan, disusul 
   ledakan kekerasan lagi, demikian seterusnya.
• Korban “terperangkap”, merasa bingung, takut, bersalah, tak berdaya, berharap pelaku
   menepati janji untuk tidak melakukan kekerasan lagi, dan demikian seterusnya.
• Bila tidak ada intervensi khusus (internal, eksternal) siklus kekerasan dapat terus berputar
   dengan perguliran makin cepat, dan kekerasan makin intens.
• Sangat destruktif dan berdampak merugikan secara psikologis (dan mungkin juga fisik).

Dampak psikologis pada korban
KDRT dapat menimbulkan dampak yang serius pada korban dan orang terdekatnya 
(misal: anak). Adanya dampak fisik mungkin lebih tampak. Misal: luka, rasa sakit, kecacatan,
kehamilan, keguguran kandungan, kematian. Apapun bentuk kekerasannya, selalu ada dampak 
psikis dari KDRT. Dampak psikis dapat dibedakan dalam ”dampak segera” setelah kejadian, 
serta ”dampak jangka menengah atau panjang” yang lebih menetap. Dampak segera, seperti
rasa takut dan terancam, kebingungan, hilangnya rasa berdaya, ketidakmampuan berpikir, 
konsentrasi, mimpi buruk, kewaspadaan berlebihan. Mungkin pula terjadi gangguan makan 
dan tidur. 

Karakteristik korban KDRT
Seorang perempuan yang terpelajar dan mandiri secara ekonomi, tetap dapat menjadi pribadi 
yang tidak mudah mengambil keputusan dalam menghadapi KDRT. Hal ini dapat terjadi karena: 
1. Karakteristik individu (pasif, cenderung kecil hati dan tidak mampu mengambil keputusan). 
2. Peristiwa masa lalu yang membekas dan menghalangi bersikap asertif (trauma masa lalu 
    yang belum terselesaikan dengan baik dan berpengaruh terhadap cara berpikir, merasa dan 
    bertindak saat ini).
3. Keluarga berasal dari keluarga konvensional dan menekankan keutuhan rumah tangga 
    sebagai hal yang paling baik (ideologi gender yang kaku).

Karakteristik umum pelaku
Pelaku baik sadar atau tidak memiliki peran gender yang kaku dan seolah-olah membenarkan 
mereka untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan atau anak yang ada di bawah 
lindungannya.

Meski demikian, ada pula karakteristik psikologis yang berbeda, misalnya: 
•  Ada yang pada dasarnya memang telah hidup dalam budaya kekerasan, melihat kekerasan 
    sebagai cara menyelesaikan konflik dan mendapatkan hal yang diinginkan. Misal, orang dengan
    kepribadian ”preman”.
•  Ada yang mungkin tampak baik-baik saja di depan orang yang tidak mengenal secara dekat. 
    Ia terkesan sopan dan bersedia bekerja sama. Akan tetapi secara khusus orang ini 
    berpandangan rendah tentang perempuan dan menuntut perempuan untuk patuh, melayani, 
    mengikuti hal yang diinginkan. Ia tersosialisasi untuk mengembangkan dominasi yang besar
    atas perempuan. Sebagai kepala keluarga, ia juga menuntut anak untuk patuh.
•  Dekat dengan ciri di atas, pelaku yang dibesarkan dalam lingkungan disiplin bernuansa 
    kekerasan di masa kecil akan mengambil pola yang sama untuk keluarganya ketika dewasa.

Tanda-tanda potensi pelaku KDRT sebelum menikah:
•  Cenderung kasar pada semua orang. Misal: pada teman, saat menyetir mobil, di tempat 
    umum, dan keluarga sendiri. Ia mudah tersinggung dan marah, ketika marah bersikap kasar.
•  Dalam keluarganya, kita melihat kebiasaan kekerasan, kurang peduli pada orang lain, mau
    menang sendiri, tidak mau berbagi. Ayah mungkin memberikan contoh kekerasan dan 
    anak-anak menirunya. 
•  Ia mungkin egois dan selalu memikirkan kepentingannya sendiri, enggan berbagi. Orang lain
    yang harus menjaga perasaan dan lebih banyak menyesuaikan diri.
•  Ia tidak terlihat kasar saat pergaulan sehari-hari, tetapi terkesan tidak dapat mengendalikan 
    diri saat kecewa atau marah. Bila kecewa atau marah, ia dapat bersikap kasar, bertingkah laku
    membahayakan, dan membuat orang merasa takut.
•  Ia mudah curiga pada orang lain, mudah menyalahkan, banyak berpikiran buruk, khususnya
    perilaku pasangan. 
•  Ia posesif dan tidak memberikan ruang pribadi bagi kita. 
•  Ia cenderung meyakini pembagian peran gender yang kaku, menempatkan laki-laki sebagai
    penentu.
•  Ia tidak menunjukkan penyesalah setelah berbuat salah atau menyakiti orang lain. Ia malah 
    mempersalahkan orang lain atas kekasaran yang dilakukannya.
•  Ia senang berjudi, minum dan mabuk, terlibat penggunaan obat-obatan bahkan hingga
    kecanduan. 

Jika kita telah mengenali karakter pelaku KDRT, maka akan lebih baik ketika kita dapat
melakukan tindakan pencegahan sebelum terjadi sesuatu yang lebih serius. berikut adalah salah satu berita  mengenai fenomena KDRT di indonesia



Polisi di Riau diduga sering pukuli istri hingga hilang ingatan

Merdeka.com - Dmuharmi (41), warga Jalan Kaharuddin Nasution Pekanbaru, melaporkan Brigadir EF (44), seorang anggota polisi Polsek Sukajadi ke polisi. Sebab, EF diduga melakukan penganiayaan terhadap istrinya, Syahdian Abdi Putri (39). 

Pelapor merupakan sepupu Syahdian. Karena sering dipukuli EF, Syahdian kini mengalami hilang ingatan atau amnesia.

Kabid Humas Polda Riau, AKBP Guntur Aryo Tejo mengatakan akan mengusut kasus ini. ''Laporan terkait hal itu sudah diterima. Saat ini masih dilakukan penyelidikan. Saksi-saksi yang mengetahui peristiwa tersebut akan diperiksa,'' jelasnya, Senin (17/3).

Dalam laporan yang dibuatnya, Dmuharmi memaparkan apa yang menimpa korban terjadi pada Jumat (14/3) siang sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu, korban sedang berada di rumahnya, diduga dianiaya oleh EF. Kemudian melaporkannya pada Sabtu (15/3).

Akibat penganiayaan ini, korban mengalami luka lebam di sekitar kepalanya. Dalam laporannya, Dmuharmi melaporkan bahwa korban yang dulunya baik-baik saja sekarang seperti orang hilang ingatan akibat sering dipukuli dan diberi obat yang tidak jelas oleh pelaku.

Tak terima dengan perlakuan kasar, Dmuharmi berharap EF dapat diproses sesuai aturan hukum yang berlaku. Apalagi perbuatan EF sudah keterlaluan.

Sumber: 
·         Poerwandari, K. & Lianawati, E. 2010. Petunjuk penjabaran kekerasan psikis menindaklanjuti laporan kekerasan psikis. Jakarta: Program Studi Kajian Wanita Program Pascasarjana Universitas Indonesia
·         Poerwandari, K. 2008. Penguatan psikologis untuk menanggulangi kekerasan dalam rumah tangga  dan kekerasan seksual. Jakarta: Program Studi Kajian Wanita Program Pascasarjana Universitas Indonesia
·         http://www.merdeka.com/peristiwa/polisi-di-riau-diduga-sering-pukuli-istri-hingga-hilang-ingatan.html

Kamis, 28 November 2013

SEMAKIN BANYAK TEMAN SEMAKIN KUAT KONEKSI DI DALAM OTAK

KATA PENGANTAR


Puji dan Syukur saya panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga saya dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Dalam makalah ini saya membahas mengenai manfaat bersosialisasi.

Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai manfaat berosialisasi dengan baik. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun kemudian saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membimbing serta memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan di masa depan. 


Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian. 





Depok, 28 November 2013 




                                                                                                                    Roby Farhan



DAFTAR ISI

Kata pengantar                         ................................................................................................. ii
Daftar isi                                 .................................................................................................. iii
BAB 1.PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang         ................................................................................................ 1
1.2 Rumusan masalah      ............................................................................................... 2
1.3 Tujuan penulisan       ................................................................................................ 2
BAB 2.PEMBAHASAN            ................................................................................................ 2
BAB 3.PENUTUP
            3.1 KESIMPULAN        ............................................................................................... 4
            3.2 SARAN                    ............................................................................................... 4
Daftar pustaka                             ............................................................................................... 4















BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.
Setiap kelompok  masyarakatmempunyai standar dan nilai yang berbeda. Salah satu bagian sosialisasi adalah berteman. Dalam perkembangan anak, berteman dengan teman sebaya adalah salah satu tugas perkembangan yang penting dilakukan sejak usia 3 tahun. Melalui persahabatan, manusia mampu mengembangkan hubungan erat antar manusia dan menjadi bagian dari lingkungannya. Manusia mencari pendampingan dari orang di sekitarnya, afeksi dan keintiman melalui persabahatan.
Sebagai suatu tugas perkembangan, persabahatan memiliki peran besar dalam perkembangan manusia,Diantaranya :
1.      Berteman dapat menjadi sarana belajar peran dalam konteks relasi sosial, dimana anak      dapat belajar bagaimana berperan secara sosial bagi orang lain di luar hubungan keluarga (misal: membantu, kompetisi, dll.)
2.      Dalam hubungan persahabatan berisi dengan proses menerima dan memberi, hal ini memberikan pengalaman proses belajar “saling” (reciprocal) dan dinamika kelompok          
3.      Dalam persabahatan, anak dapat belajar memahami dan menjelaskan perilaku orang lain   
4.      Persahabatan memberikan perasaan terikat dan aman karena membuat seseorang merasa diterima dalam suatu kelompok.


1.2  RUMUSAN MASALAH
·         Apa manfaat dari orang yang pandai bersosialisasi?
·         Apa bukti bahwa semakin seseorang pandai bersosialisasi maka koneksi otak akan semakin lancar?

1.3  TUJUAN PENULISAN
·         Memberikan informasi kepada orang-orang akan manfaat memiliki banyak teman
·         Membuktikan bahwa semakin banyak bersosialisasi maka koneksi semakin lancar

BAB 2
PEMBAHASAN

Jakarta, Kabar gembira bagi orang-orang yang mempunyai banyak teman. Selain dianggap anak gaul tentunya, sebuah studi menemukan orang yang punya banyak teman memiliki koneksi otak yang lebih baik ketimbang orang yang hanya punya satu-dua teman saja.

Temuan ini diungkapkan tim peneliti dari Oxford University yang menanyai 18 pria dan wanita berapa banyak teman yang mereka temui dan teman yang mereka ajak bicara di telepon atau via email dalam sebulan belakangan.

Ternyata rata-rata setiap partisipan mengontak sekitar 20 teman dalam kurun sebulan belakangan, namun beberapa di antaranya mengaku berkomunikasi dengan lebih dari 40 teman sekaligus. Ada juga yang hanya melakukan kontak dengan 10 teman saja.

Kemudian setelah otak partisipan dipindai, hasilnya menunjukkan hampir separuh bagian otak partisipan yang punya banyak teman terlihat lebih besar daripada bagian otak partisipan yang punya beberapa teman saja. Dan terbukti semakin banyak teman yang mereka miliki, makin besar bagian otak yang dimaksud.

Salah satu bagian otak yang berkaitan dengan kemampuan bersosialisasi adalah anterior cingulate cortex. Dari scan otak partisipan terlihat koneksi antara anterior cingulate cortex dengan bagian otak lainnya (terutama yang berfungsi mencatat rekam jejak tentang apa yang orang lain lakukan, pikirkan dan rasakan) ternyata terlihat lebih kuat pada para sosialita.

"Pada orang-orang yang pandai bersosialisasi, mungkin kuatnya koneksi di dalam otak menyebabkan komunikasi antarbagian otaknya begitu lancar sehingga proses mengolah informasinya jadi lebih efisien dan lebih cepat," terang peneliti MaryAnn Noonan seperti dilansir Daily Mail, Selasa (19/11/2013).

Temuan ini juga memastikan hasil riset peneliti terhadap sekumpulan monyet, dan keduanya menunjukkan fakta yang sama. Hal ini membuat peneliti menduga jika orang-orang yang lebih pandai bersosialisasi bukannya terlahir dengan otak yang 'lebih terkoneksi' sehingga mereka mudah mencari teman.

Peneliti percaya orang yang punya banyak teman menggunakan bagian otak tertentu lebih sering daripada lainnya, sehingga mereka dapat mempertahankan pertemanan atau tetap bisa bertahan meski berada di tengah-tengah masyarakat yang tuntutan sosialnya tinggi.

"Saya dapat katakan otak berubah sebagai respons terhadap pelebaran ukuran jaringan sosial seseorang. Tapi bukan berarti tak ada pengaruh genetik di balik hal itu, karena jika Anda berasal dari keluarga yang pandai bersosialisasi maka otak Anda juga akan cenderung begitu," tegas Dr. Noonan.

Kendati begitu, terjadinya penguatan koneksi sebagian otak yang terjadi pada orang-orang yang pandai bersosialisasi berakibat pada penyusutan bagian otak lain yang jarang digunakan ketika mereka bersosialisasi.





BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Orang yang memiliki banyak teman memiliki koneksi yang lebih baik ketimbang yang hanya punya satu atau dua teman saja. Berdasarkan penelitian oleh tim peneliti oxford university bahwa hampir separuh bagian otak partisipan yang memiliki banyak teman terlihat lebih besar dari pada bagian otak partisipan yang punya beberapa teman saja. Namun penguatan koneksi sebagian otak yang terjadi pada orang-orang yang pandai bersosialisasi berakibat pada penyusutan bagian otak lain yang jarang digunakan ketika mereka bersosialisasi

3. 2 SARAN
Dalam pembentukan kepribadian pasti membutuhkan hasil sosialisasi. Oleh karena itu marilah kita sama-sama melakukan sosialisasi yang baik antar sesama manusia sehingga koneksi otak akan semakin membbaik serta kepribadian yang kita miliki akan baik pula.

Daftar pustaka