Imbalan adalah sesuatu yang meningkatkan
frekuensi kegiatan seorang pegawai. Sesuatu dinamakan imbalan atau bukan,
tergantung pada keseluruhan pengaruh terhadap perilaku pegawai. Jika kinerja
seorang pegawai diikuti oleh sesuatu dan kinerja lebih sering terjadi di saat
kemudian setelah sesuatu, maka sesuatu tersebut disebut imbalan.
Pemberian imbalan yang positif oleh pimpinan
mempunyai hubungan yang positif terhadap peningkatan kemampuan dan kepuasan
pegawai pada kelompok tugas administratif, profesi, teknik dan pelayanan di
Rumah Sakit ( Penelitian Sims dan Szilagyi ,1975)
Dalam praktek, sayangnya sering terjadi kesalahan
pemberian imbalan (disfunctional reward). Pemimpin memberikan imbalan justru
terhadap perilaku pegawai yang tidak diharapkan, sementara itu hukuman justru
diberikan pada perilaku pegawai yang baik (Prawirosentono, 1999). Sebagai
contoh seorang pegawai yang mempunyai kemampuan menyelesaikan tugas laporan
yang buruk, tiba-tiba pimpinan mengalihkan tugas secara permanen kepada pegawai
lain yang dipercaya mampu mengerjakannya dengan baik. Pada situasi seperti itu,
secara tidak sengaja seorang pegawai memperoleh imbalan dengan membuat
kesalahan dan seseorang mendapat hukuman setelah membuat pekerjaan yang baik.
TUJUAN IMBALAN :
1. Memotivasi anggota
organisasi
Sistem
imbalan yang dirancang oleh suatu organisasi harus mampu memacu motivasi kerja
dari anggota organisasi agar berprestasi pada tingkat yang tinggi. Untuk itu
imbalan yang dibentuk oleh organisasi harus memiliki nilai di mata organisasi.
2. Membuat kerasan
pekerja yang sudah ada
Sistem imbalan yang dibuat oleh suatu organisasi
ditujukan unutk mempertahankan perkerja
yang sudah ada terutama perkerja yang berkualitas agar mereka kerasan berkerja
dan tidak mudah tertarik untuk pindah ke organisasi yang lainya.
3. Untuk mencari orang-orang yang berkualitas
Kemajuan
suatu organisasi ditentukan oleh kualitas orang-orang yang ada didalamnya.
Organisasi harus mampu menarik orang-orang yang berkualitas agar mereka tertarik
untuk masuk kedalam organisasi. Salah satu daya tarik seseorang masuk bergabung
ke dalam suatu organisasi adalah sistem imbalan yang dibentuk dan diterapkan
oleh organisasi tersebut.
Hukum adalah himpunan peraturan-peraturan hidup
yang bersifat memaksa, berisikan suatu perintah larangan atau izin untuk
berbuat atau tidak berbuat sesuatu atau dengan maksud untuk mengatur tata
tertib dalam kehidupan masyarakat. (Soerojo Wignjodipoero, S.H).dengan
tujuan agar kinerja pada
organisasi tersebut dapat berjalan dengan baik. Jika aturan dan hukum dalam
suatu organisasi tidak berjalan baik maka akan terjadi konflik kepentingan baik
antar individu maupun antar organisasi
Pada suatu organisasi sangat diperlukan aturan
dan hukuman serta imbalan dimana imbalan dalam suatu organisasi itu
penting karena kita memang menghargai mereka yang sudah berupaya mengubah cara
kerja mereka. Imbalan juga memperlihatkan bahwa kita menganggap penting budaya
tersebut. Pesan-pesan pentingnya sebuah budaya harus kita sampaikan terus
menerus. Pesan dengan menyampaikan di dalam pertemuan atau setiap pagi sebelum
memulai kegiatan memang efektif tetapi lebih efektif jika kita memberikan pesan
secara tidak langsung.
Imbalan juga akan memicu orang-orang untuk
melakukan yang terbaik. Sebaiknya Imbalan bukan untuk mereka yang paling di
dalam bidangnya melainkan berikan target dan berikan Imbalan buat mereka yang
melampui target yang ada. Imbalan juga berfungsi untuk memperlihatkan bahwa
kita sebagai atasan menghargai kinerja mereka yang sesuai dengan aturan yang
berlaku.
Sedangkan aturan dan hukuman berfungsi sebagai suatu
alat pengendali agar suatu kinerja dalam suatu organisasi tersebut dapat
berjalan dengan baik. Jika suatu organisasi aturan dan hukuman tidak diterapkan
maka suatu organisasi tersebut tidak akan berjalan dengan baik dan akan
menimbulkan konflik kepentingan baik antar individu ataupun antar organisasi.
Untuk mengefektifkan peraturan tersebut butuh
kesadaran untuk mematuhi peraturan yang sudah diterapkan dalam sebuah
organisasi tersebut, maka dibuatlah hukuman agar kita mematuhi hukuman
tersebut. Hukuman tersebut juga berlaku dalam bersosialisasi contohnya dalam
berorganisasi. Perlunya hukuman dalam organisasi agar pelaku dalam organisasi
tersebut dapat merubah perilaku pegawai, yaitu dengan mempertimbangkan: Waktu,
Intensitas, Jadwal, Klarifikasi, dan Impersonalitas (tidak bersifat pribadi).
Pengambilan keputusan adalah menentukan suatu jalan keluar dengan berkomunikasi
secara bersama - sama. Keputusan terdiri dari :
• Keputusan Strategis
Yaitu keputusan yang dibuat oleh manajemen puncak dari suatu organisasi.
• Keputusan Taktis
Keputusan yang diambil oleh manajement menengah.
• Keputusan Operasional
Keputusan yang dibuat oleh manajemen bawah.
Pengambilan keputusan secara universal didefinisikan sebagai pemilihan diantara
berbagai alternative. Pengertian ini mencakup baik pembuatan pilihan maupun
pemecahan masalah. Langkah-langkah dalam proses pengambilan keputusan:
Menurut Herbert A. Simon, Proses pengambilan keputusan pada hakekatnya terdiri
atas tiga langkah utama, yaitu:
• Kegiatan Intelijen
Menyangkut pencarian berbagai kondisi lingkungan yang diperlukan bagi
keputusan.
• Kegiatan Desain
Tahap ini menyangkut pembuatan pengembangan dan penganalisaan berbagai
rangkaian kegiatan yang mungkin dilakukan.
• Kegiatan Pemilihan
Pemilihan serangkaian kegiatan tertentu dari alternative yang tersedia.
Sedangkan menurut Scott dan Mitchell, Proses pengambilan keputusan meliputi:
• Proses pencarian/penemuan tujuan
• Formulasi tujuan
• Pemilihan Alternatif
• Mengevaluasi hasil-hasil
Jenis Pengambilan Keputusan
1. Pengambilan keputusan terprogram :
Jenis pengambilan keputusan
ini.mengandung suatu respons otomatik terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan yang
telah ditetapkan sebelumnya. Masalah yang bersifat pengulangan dan rutin dapat
diselesaikan dengan pengambilan keputusan jenis ini. Tantangan yang besar bagi
seorang analis adalah mengetahui jenis-jenis keputusan ini dan memberikan atau
menyediakan metode-metode untuk melaksanakan pengambilan keputusan yang
terprogram di mana saja. Agar pengambilan keputusan harus didefinisikan dan
dinyatakan secara jelas. Bila hal ini dapat dilaksanakan, pekerjaan selanjutnya
hanyalah mengembangkan suatu algoritma untuk membuat keputusan rutin dan
otomatik.
2. Pengambilan
keputusan tidak terprogram:
menunjukkan proses yang berhubungan
dengan masalah – masalah yang tidak jelas. Dengan kata lain, pengambilan
keputusan jenis ini meliputi proses- proses pengambilan keputusan untuk
menjawab masalah-masalah yang kurang dapat didefinisikan. Masalah-masalah ini
umumnya bersifat kompleks, hanya sedikit parameter – parameter yang diketahui
dan kebanyakan parameter yang diketahui bersifat probabilistik. Untuk menjawab
masalah ini diperlukan seluruh bakat dan keahlian dari pengambilan keputusan,
ditambah dengan bantuan sistem informasi. Hal ini dimaksud untuk mendapatkan
keputusan tidak terprogram dengan baik. Perluasan fasilitas fasilitas pabrik,
pengembangan produk baru, pengolahan dan pengiklanan kebijaksanaan- kebijaksanaan,
manajemen kepegawaian, dan perpaduan semuanya adalah contoh masalah-masalah
yang memerlukan keputusan-keputusan yang tidak terprogram. Sangat banyak waktu
yang dikorbankan oleh pegawai-pegawai tinggi pemerintahan, pemimpin-pemimpin
perusahaan, administrator sekolah dan manajer organisasi lainnya dalam menjawab
masalah dan mengatasi konflik. Ukuran keberhasilan mereka dapat dihubungkan
secara langsung
Pendekatan konperhensif lainnya adalah dengan menggunakan analisis sistem,
Menurut ELBING ada lima langkah dalam proses pengambilan keputusan:
• Identifikasi dan Diagnosa masalah
• Pengumpulan dan Analisis data yang relevan
• Pengembangan dan Evaluasi alternative alternative
• Pemilihan Alternatif terbaik
• Implementasi keputusan dan Evaluasi terhadap hasil-hasil
Proses pengambilan keputusan dalam organisasi ialah kumpulan yang terdiri dari
beberapa orang untuk mencapai tujuan bersama, didalam organisasi rentan
terjadinya selisih pendapat begitu juga keputusan dalam mengambil sikap, dapat
diartikan cara organisasi dalam pengambilan keputusan. Dalam proses pengambilan
keputusan ada beberapa metode yang sering di gunakan oleh para pemimpin, yaitu
:
1. Kewenangan Tanpa Diskusi (Authority Rule Without Discussion)
Metode pengambilan keputusan ini seringkali digunakan oleh para pemimpin
otokratik atau dalam kepemimpinan militer. Metode ini memiliki beberapa
keuntungan, yaitu cepat, dalam arti ketika organisasi tidak mempunyai waktu
yang cukup untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Selain itu, metode ini
cukup sempurna dapat diterima kalau pengambilan keputusan yang dilaksanakan
berkaitan dengan persoalan-persoalan rutin yang tidak mempersyaratkan diskusi
untuk mendapatkan persetujuan para anggotanya.
Namun demikian, jika metode pengambilan keputusan ini terlalu sering digunakan,
ia akan menimbulkan persoalan-persoalan, seperti munculnya ketidak percayaan
para anggota organisasi terhadap keputusan yang ditentukan pimpinannya, karena
mereka kurang bahkan tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Pengambilan
keputusan akan memiliki kualitas yang lebih bermakna, apabila dibuat secara
bersama-sama dengan melibatkan seluruh anggota kelompok,daripada keputusan yang
diambil secara individual.
2. Pendapat Ahli (expert opinion)
Kadang-kadang seorang anggota organisasi oleh anggota lainnya diberi predikat
sebagai ahli (expert), sehingga memungkinkannya memiliki kekuatan dan kekuasaan
untuk membuat keputusan. Metode pengambilan keputusan ini akan bekerja dengan
baik, apabila seorang anggota organisasi yang dianggap ahli tersebut memang
benar-benar tidak diragukan lagi kemampuannya dalam hal tertentu oleh anggota
lainnya.
Dalam banyak kasus, persoalan orang yang dianggap ahli tersebut bukanlah
masalah yang sederhana, karenasangat sulit menentukan indikator yang dapat
mengukur orang yang dianggap ahli (superior). Ada yang berpendapat bahwa orang
yang ahli adalah orang yang memiliki kualitas terbaik; untuk membuat keputusan,
namun sebaliknya tidak sedikit pula orang yang tidak setuju dengan ukuran
tersebut. Karenanya, menentukan apakah seseorang dalam kelompok benar-benar
ahli adalah persoalan yang rumit.
3. Kewenangan Setelah Diskusi (authority rule after discussion)
Sifat otokratik dalam pengambilan keputusan ini lebih sedikit apabila
dibandingkan dengan metode yang pertama. Karena metode authority rule after
discussion ini pertimbangkan pendapat atau opini lebih dari satu anggota
organisasi dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, keputusan yang
diambil melalui metode ini akan mengingkatkan kualitas dan tanggung jawab para
anggotanya disamping juga munculnya aspek kecepatan (quickness) dalam
pengambilan keputusan sebagai hasil dari usaha menghindari proses diskusi yang
terlalu meluas. Dengan perkataan lain, pendapat anggota organisasi sangat
diperhatikan dalam proses pembuatan keputusan, namun perilaku otokratik
dari pimpinan, kelompok masih berpengaruh.
Metode pengambilan keputusan ini juga mempunyai kelemahan, yaitu pada anggota
organisasi akan bersaing untukmempengaruhi pengambil atau pembuat keputusan.
Artinya bagaimana para anggota organisasi yang mengemukakan pendapatnya dalam
proses pengambilan keputusan, berusaha mempengaruhi pimpinan kelompok bahwa
pendapatnya yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan.
4. Kesepakatan (consensus)
Kesepakatan atau konsensus akan terjadi kalau semua anggota dari suatu
organisasi mendukung keputusan yang diambil. Metode pengambilan keputusan ini
memiliki keuntungan, yakni partisipasi penuh dari seluruh anggota organisasi
akan dapat meningkatkan kualitas keputusan yang diambil, sebaik seperti
tanggung jawab para anggota dalam mendukung keputusan tersebut. Selain itu
metode konsensus sangat penting khususnya yang berhubungan dengan
persoalan-persoalan yang kritis dan kompleks.
Namun demikian, metodepengambilan keputusan yang dilakukan melalui kesepakatn
ini, tidak lepas juga dari kekurangan-kekurangan. Yang paling menonjol adalah
dibutuhkannya waktu yang relatif lebih banyak dan lebih lama, sehingga metode
ini tidak cocok untuk digunakan dalam keadaan mendesak atau darurat.
Keempat metode pengambilan keputusan di atas, menurut Adler dan Rodman, tidak
ada yang terbaik dalam arti tidak ada ukuran-ukuran yang menjelaskan bahwa satu
metode lebih unggul dibandingkan metode pengambilan keputusan lainnya. Metode
yang paling efektif yang dapat digunakan dalam situasi tertentu, bergantung
pada faktor-faktor:
• Jumlah waktu yang ada dan dapat dimanfaatkan,
• Tingkat pentingnya keputusan yang akan diambil oleh kelompok, dan
• Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh pemimpin kelompok dalam mengelola
kegiatan pengambilan keputusan tersebut.
Dari metode di atas tersebut sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan,
yaitu :
• Kekuatan Mental
Kekuatan mental itu sama seperti prinsip, jadi dalam organisasi harus punya
prinsip.
• Sanksi
Sanksi sangat perlu dalam organisasi, agar tidak melakukan kesalahan yang sama
baik itu pemimpin maupun anggotanya.
• Keahlian
Pemimpin harus punya kekuatan mental dalam organisasi, jika tidak sama saja
seperti pemimpin yang tidak mempuanyi gelar.
• Kharisma
Semua pemimpin harus punya kharisma agar terus menjadi panutan bagi semua
orang. Maka dari itu kharisma merupakan citra baik yang di miliki seseorang
agar menjadi panutan semua orang.
Model-model Pengambilan keputusan
a. Model Perilaku Pengambilan keputusan
• Model Ekonomi
yang dikemukakan oleh ahli ekonomi klasik dimana keputusan orang itu rasional,
yaitu berusaha mendapatkan keuntungan marginal sama dengan biaya marginal atau
untuk memperoleh keuntungan maksimum
• Model Manusia Administrasi
Dikemukan oleh Herbert A. Simon dimana lebih berprinsip orang tidak
menginginkan maksimalisasi tetapi cukup keuntungan yang memuaskan
• Model Manusia Mobicentrik
Dikemukakan oleh Jennings, dimana perubahan merupakan nilai utama sehingga
orang harus selalu bergerak bebas mengambil keputusan
• Model Manusia Organisasi
Dikemukakan oleh W.F. Whyte, model ini lebih mengedepankan sifat setia dan
penuh kerjasama dalam pengambilan keputusan
• Model Pengusaha Baru
Dikemukakan oleh Wright Mills menekankan pada sifat kompetitif
• Model Sosial
Dikemukakan oleh Freud Veblen dimana menurutnya orang seringb tidak rasional
dalam mengambil keputusan diliputi perasaan emosi dan situsai dibawah sadar.
b. Model Preskriptif dan Deskriptif
Fisher mengemukakan bahwa pada hakekatnya ada 2 model pengambilan keputusan,
yaitu:
• Model Preskriptif
Pemberian resep perbaikan, model ini menerangkan bagaimana kelompok seharusnya
mengambil keputusan.
• Model Deskriptif
Model ini menerangkan bagaimana kelompok mengambil keputusan tertentu.
Model preskriptif berdasarkan pada proses yang ideal sedangkan model deskriptif
berdasarkan pada realitas observasi
Disamping model-model diatas (model linier) terdapat pula model Spiraldimana
satu anggota mengemukakan konsep dan anggota lain mengadakan reaksi setuju tidak
setuju kemudian dikembangkan lebih lanjut atau dilakukan “revisi” dan
seterusnya.
Teknik-teknik Pengambilan Keputusan
a. Teknik Kreatif
• Brainstorming
Berusaha untuk menggali dan mendapatkan kreatifitas maksimum dari kelompok
dengan memberikan kesempatan para anggota untuk melontarkan ide-idenya.
• Synectics
Didasarkan pada asumsi bahwa proses kreatif dapat dijabarkan dan diajarkan,
dimaksudkan untuk meningktakan keluaran (output) kreatif individual dan
kelompok
b. Teknik Partisipatif
Individu individu atau kelompok dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
• Teknik Modern
- Teknik Delphi
- Teknik Kelompok Nominal
Komunikasi ialah penyampaian pesan
dari komunikator (sender) kepada komunikan (receiver) melalui media tertentu
dan menyebabkan efek.Organisasi adalah sekelompok orang yang bekerjasama untuk
mencapai tujuan tertentu.jadi Komunikasi dalam organisasi merupakan suatu
komunikasi atau proses untuk anggota menghimpun informasi yang berhubungan
dengan organisasinya dan merubah apa yang terjadi di dalamnya.
Komunikasi
dalam suatu organisasi sangat penting agar tidak terjadinya salah penyampaian
informasi antar anggota dalam suatu organisasi dan agar tercapainya tujuan
tertentu. Sebuah interaksi yang bertujuan untuk menyatukan dan mensikronkan
seluruh aspek untuk kepentingan bersama sangat dibutuhkan dalam sebuah tujuan
berorganisasi. Dengan kata lain, tanpa adanya sebuah interaksi yang baik
niscaya sebuah organisasi tidak akan mencapai tujuannya. Interaksi disini
adalah mutlak meliputi seluruh anggota organisasi yang dapat berupa
penyampaian-penyampaian informasi, instruksi tugas kerjaatau mungkin pembagian
tugas kerja. Interaksi sebenarnya adalah proses hubungan komunikasi antara 2
orang atau lebih dimana orang yang satu bertindak sebagai pemberi informasi dan
orang yang lain berperan sebagai penerima informasi. Intinya, korelasinya harus
melibatkan dan terfokus kepada orang-orang itu sendiri dalam suatu organisasi.
dengan kata lain dapat disimpulkan komunikasi dapat dibilang juga sebagai
proses penyampaian informasi yang berguna untuk mengkoordinasi lingkungan dan
orang lain demi mencapai suatu tujuan. Pada artikel kami kali ini konteks
komunikasi yang akan dibahas adalah meliputi konteks komunikasi dalam sebuah
organisasi.
Setiap bentuk organisasi pasti mengedepankan
sebuah komunikasi agar tercipta hasil yang selaras. Biasanya proses komunikasi
dalam suatu organisasi meliputi atasan dan bawahan dengan metode penyampaian
yang terarah dari suatu atasan ke bawahannya yang semata-mata semua
berorientasi berdasarkan organisasi. Bisa kita bayangkan berorganisasi tanpa
adanya komunikasi pasti hasilnya nihil. tanpa mengetahui apa tujuan yang jelas
.
Tujuan
komunikasi dalam sebuah organisasi sangat memberikan banyak manfaat secara
langsung yaitu memudahkan para anggota bekerja dari instruksi-instruksi yang
diberikan dari atasan dan untuk mengurangi kesalahpahaman yang biasa terjadi
dan memang sudah melekat pada suatu organisasi. Apabila semua bawahan dan
atasan dapat berinteraksi dengan baik, maka seluruh kesalahpahaman yang
beresiko mungkin akan berkurang presentase nya , karena tiap manusia mempunyai
cara penyampaian komunikasi yang berbeda-beda secara verbal dan mau tidak mau
kita harus membuat si penerima informasi itu mengerti informasi apa yang kita
sampaikan. Dengan demikian semua pelaku organisasi harus berbicara , bertindak
satu sama lain guna untuk membangun satu lingkungan kondusif dan mengetahui
situasi-situasi apa yang akan terjadi di luar suatu dugaan karena kesalahan
komunikasi sekecil apa pun pasti akan berakibat fatal.
Peranan tokoh pelaku organisasi sangat
berperan penting dalam kemajuan organisasi. Atasan organisasi juga sangat
berpengaruh , atasan dituntut untuk melakukan sesuatu tindakan yang real dan
berdisiplin guna untuk mengurangi tingkat kesalahpahaman yang terjadi pada
anggota. Contoh kecil saja apabila melakukan rapat atasan mengirimkan informasi
pada suatu bawahannya dan si bawahan menginformasikan kepada seluruh anggota
untuk datang ke suatu pertemuan rapat dengan waktu dan tempat yang sudah
ditentukan. Tetapi apabila si atasan terlambat datang tanpa memberi kabar yang
jelas maka dari sini mulailah kesalahpahaman dan ambiguilitas yang terjadi.
Karena setiap pelaku organisasi dituntut untuk bersikap profesional dan
mengedepankan disiplin serta tanggung jawab yang besar dan iitu akan terus
berlanjut apabila kita sudah melanjutkannya di dunia kerja. Atasan dituntut
atas apa yang diperkerjakan oleh bawahannya dan dapat mengawasi dan memotivasi
secara efektif , maka sang atasan harus mempunyai profesionalisme yang baik.
Dimulai dari hal-hal kecil yang berpotensi
membuat kesalahan komunikasi , suatu tujuan organisasi akan terhambat. Maka
peran teknologi juga sangat diperhitungkan dalam suatu organisasi. Bisa berupa
pesan singkat atau blackberry messenger dan panggilan langsung melalui telepon.
Upayakan berikan jalaur komunikasi terbaik bagi partner kerja kita demi mecegah
ambiguilitas misalnya melalui panggilan telepon atau pesan singkat jika hanya
memberikan informasi yang simple. Hal ini dikarenakan karena dalam jalur
komunikasi yang kita buat pasti selalu ada hambatan yang tidak akan kita tahu.
Baik dari permasalahan teknologi itu sendiri misalnya signal trouble yang
biasanya terjadi karena daerah tertentu masih belum memasuki jangkauan coverage
yang luas. Karena apabila kita mebahas tentang hambatan , pasti akan banyak
sekali yang termauk dalam hambatan dalam proses komunikasi. Menurut kami,
hambatan yang memicu terjadinya kesalahan komunikasi berawal dari pembawaan
individual masing-masing atau mereka para pelaku organisasi itu sendiri. Yang
paling nyata adalah sifat dan kebutuhan suatu individu itu sendiri , biasanya
berupa emosi, rasa tertutup, atau rasa ingin dihormati . Misalnya suatu
individu pasti punya rasa untuk ingin di hargai sehingga konflik yang akan
timbul disini adanya kurangnya rasa saling kepercayaan yang antara anggota yang
satu dengan anggota yang lainnyayang berakibat miss communication atau miss
understanding. Untuk itu sikap jujur dan transparan dalam berorganisasi patut
dijunjung tinggi dalam kehifupan berorganisasi, karena kerja tim sangat
berpenguruh. Pengaruh kestabilan emosi juga penting karena apabila kita dalam
keadaan emosi maka informasi yang kita terima tidak akan kita tanggapi dengan
baik seluruhnya yang mengakibat akhir dari tujuan suatu oragnisasi kurang
terasa maksimal (retno ayu pratiwi,2011)
Komunikasi di dalam perusahaan atau
organisasi terdiri dari:
§Komunikasi
Vertikal
Yaitu
komunikasi dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas. Yaitu komunikasi dari pimpinan
ke bawahan dan dari bawahan ke pimpinan. Atasan memberi instruksi-instruksi
kepada karyawan baik secara formal dan non formal, dalam hal ini bawahan
memberikan laporan-laporan , saran-saran dan pengaduan-pengaduan kepada
pimpinan.
§Komunikasi Horizontal
Komunikasi
ini sifatnya mendatar, yang terjadi antar anggota, staf, karyawan dengan
karyawan, mahasiswa dengan mahasiswa. Komunikasi ini sifatnya lebih non formal,
meski ada yang formal juga.
§Komunikasi
Diagonal
Komunikasi
ini menunjukkan hubungan-hubungan dengan orang-orang yang mempunyai status
lebih tinggi atau lebih rendah.
Cara Meningkatkan Keterampilan
Komunikasi
Keterampilan
komunikasi yang diperlukan dalam komunikasi bisnis:
oMembaca
oMendengarkan
oPercakapan
oWawancara
oDiskusi
Kelompok
oPidato
dan Presentasi
oMenulis
(indah amalia,2010)
Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi
Sendjaja (1994) menyatakan fungsi
komunikasi dalam organisasi adalah sebagai berikut:
1.Fungsi
informatif. Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan
informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat
memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi
yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan
pekerjaannya secara lebih pasti. Orang-orang dalam tataran manajemen
membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna
mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan
(bawahan) membutuhkan informasi untuk melaksanakan pekerjaan, di samping itu
juga informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin
cuti, dan sebagainya.
2.Fungsi regulatif.
Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu
organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu:
a. Berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu
mereka yang memiliki Sendjaja (1994) menyatakan fungsi komunikasi dalam
organisasi adalah sebagai kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang
disampaikan. Juga memberi perintah
atau intruksi supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya. b. Berkaitan dengan pesan. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi
pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan
yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
3.Fungsi persuasif. Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan
tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan
ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada
memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan
akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering
memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.
4.Fungsi
integratif. Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang
memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada
dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu: a. Saluran
komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (buletin,
newsletter) dan laporan kemajuan organisasi. b. Saluran komunikasi informal
seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan
olahraga, ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan
menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan
terhadap organisasi. (sihnu bagus,2011)
Daftar
pustaka :
Sihnu Bagus, Komunikasi dalam
organisasi, http://all-about-theory.blogspot.com/2011/11/fungsi-komunikasi-dalam-organisasi.html,
28 maret 2013, 20:00
Kepemimpinan
atau tepatnya sifat kepemimpinan semakin banyak mendapat sorotan, khususnya
masalah kurang efektifnya suatu kepemimpinan baik itu pada suatu Negara,
organisasi maupun pada skala kecil seperti keluarga. Sangat umum kita ketahui
bahwa seorang pemimpin adalah orang yang bersifat mengayomi, berkharisma dan
orang yang membuat perubahan kearah yang lebih baik.Seperti sosok BJ Habibie menjadi
satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki jabatan nomor dua di perusahaan
pesawat terbang Jerman ini.
Banyak
para pakar dan tokoh yang telah mendefenisikan kepemimpinan yang berpijak dari
pengalaman dan latar belakang ilmu yang digeluti. Dalam pengertian yang paling
mendasar kepemimpinan dapat didefenisikan sebagai suatu proses mempengaruhi
orang lain dan mempersiapkan lingkungan yang dibutuhkan dalam pencapaian tujuan
kelompok atau organisasi. Seiring dengan perubahan social, inovasi teknologi,
globalisasi dan persaingan saat ini, peran dan tanggung jawab seorang pemimpin
menjadi lebih berat. Keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh
pengaruh yang dimilikinya akan tetapi juga kemampuan intelektual dan kecerdasan
emosional yang dimilikinya. Kepemimpinan menjadi seperti ilmu bela diri yang
harus terus menerus berlatih dan mengasah kemampuannya dalam menjawab
tantangan.
BAB 2. ISI
A.Pengertian
Kepemimpinan.
Kepemimpinanadalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin
kepadapengikutnyadalam upaya mencapai tujuan organisasi.[1]Caraalamiahmempelajari kepemimpinan adalah "melakukannya dalam
kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli,
pengrajin, atau praktisi.[2]Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari
peranya memberikan pengajaran/instruksi.[2]
Kebanyakan
orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimipin yang efektif mempunyai sifat
atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke
depan, dayapersuasi, danintensitas.[3]Dan memang, apabila kita berpikir tentang pemimpin yang
heroik seperti Napoleon, Washington, Lincoln, Churcill, Sukarno, Jenderal
Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti itu
melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan yang
mereka inginkan.
B.TIPE-TIPE KEPEMIMPINAN
1.Tipe
Otokratik Semua ilmuan yang berusaha memahami segi
kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik
dipandang sebagai karakteritik yang negatif.
Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang
otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter
akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :
- Kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama
dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian
kurang menghargai harkat dan martabat mereka. - Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan
penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan
dan kebutuhan para bawahannya. - Pengabaian peranan para bawahan dalam proses
pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin
yang otokratik antara lain : - Menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya - Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya - Bernada keras dalam pemberian perintah atau
instruksi - Menggunakan pendekatan punitif dalamhal
terhadinya penyimpangan oleh bawahan,
2.Tipe Paternalistik Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di
lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris.
Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang
ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang
dituakan.
Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan
atau panutan masyarakat. Biasanya tiokoh-toko adat, para ulama dan guru.
Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.
3.Tipe
Kharismatik Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur
yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada
karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga
mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya
seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak
pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara
konkret mengapa orang tersebut dikagumi.4.
4.Tipe
Laissez Faire Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi
akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri
dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan
organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus
ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.
Karakteristik dan Gaya Kepemimpinan tipe ini
adalah : - Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif - Pengambilan keputusan diserahkan kepada para
pejabat pimpinan yang lebih rendah dan kepada petugas operasional, kecuali
dalam hal-hal tertentu yang nyata-nyata menuntut keterlibatannya langsung. - Status quo organisasional tidak terganggu - Penumbuhan dan pengembangan kemampuan berpikir
dan bertindah yang inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang
bersangkutan sendiri. - Sepanjang dan selama para anggota organisasi
menunjukkan perilaku dan prestasi kerja yang memadai, intervensi pimpinan dalam
organisasi berada pada tingkat yang minimum.
5.Tipe Demokratik - Pemimpin yang demokratik biasanya memandang
peranannya selaku koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen
organisasi. - Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus
disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas
dan kegiatan yang tidak bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan. - Melihat kecenderungan adanya pembagian peranan
sesuai dengan tingkatnya. - Memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi
dan menjunjung harkat dan martabat manusia - Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya
ditakuti.
C.TEORI-TEORI
KEPEMIMPINAN
Kegiatan manusia secara bersama-sama
selalu membutuhkan kepemimpinan. Untuk berbagai usaha dan kegiatannya
diperlukan upaya yang terencana dan sistematis dalam melatih dan mempersiapkan
pemimpin baru. Oleh karena itu, banyak studi dan penelitian dilakukan orang untuk
mempelajari masalah pemimpin dan kepemimpinan yang menghasilkan berbagai teori
tentang kepemimpinan. Teori kepemimpinan merupakan penggeneralisasian suatu
seri perilaku pemimpin dan konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menonjolkan
latar belakang historis, sebab-sebab timbulnya kepemimpinan, persyaratan
pemimpin, sifat utama pemimpin, tugas pokok dan fungsinya serta etika profesi
kepemimpinan (Kartini Kartono, 1994: 27).
Teori kepemimpinan pada umumnya berusaha untuk memberikan penjelasan dan
interpretasi mengenai pemimpin dan kepemimpinan dengan mengemukakan beberapa
segi antara lain : Latar belakang sejarah pemimpin dan kepemimpinan
Kepemimpinan muncul sejalan dengan peradaban manusia. Pemimpin dan kepemimpinan
selalu diperlukan dalam setiap masa. Sebab-sebab munculnya pemimpin Ada
beberapa sebab seseorang menjadi pemimpin, antara lain:
a. Seseorang ditakdirkan lahir untuk menjadi pemimpin. Seseorang menjadi
pemimpin melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta didorong oleh kemauan
sendiri.
b. Seseorang menjadi pemimpin bila sejak lahir ia memiliki bakat kepemimpinan
kemudian dikembangkan melalui pendidikan dan pengalaman serta sesuai dengan
tuntutan lingkungan.
Untuk mengenai persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kekuasaan,
kewibawaan, dan kemampuan.
Teori-teori dalam Kepemimpinan :
a) Teori Sifat Teori ini bertolak dari dasar
pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat,
perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran
tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil,
sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi yang
dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau
ciri-ciri di dalamnya.
Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian
(1994:75-76) adalah: – pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat,
rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas,
orientasi masa depan; – sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang
tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang
antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif; –
kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas,
membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan
berkomunikasi secara efektif.
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu
bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap
unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah
kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung
didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru
sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
b) Teori Perilaku Dasar pemikiran teori ini
adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan
kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini,
pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
Ø Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri
ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul
dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya.
Di samping itu terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih
mementingkan tugas organisasi.
Ø Berorientasi kepada bawahan dan produksi perilaku pemimpin yang berorientasi
kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian
pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan
kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang
berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis
pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian
tujuan. Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continuum
pada dasarnya ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan. Sedangkan
berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur
melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap
bawahan/hubungan kerja. Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak
dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF.Stoner,
1978:442-443)
c) Teori Situasional Keberhasilan seorang pemimpin
menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku
tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi
organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang.
Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut
Sondang P. Siagian (1994:129) adalah
* Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
* Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
* Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
* Norma yang dianut kelompok;
* Rentang kendali;
* Ancaman dari luar organisasi;
* Tingkat stress;
* Iklim yang terdapat dalam organisasi.
BAB 3.PENUTUP
Pemimpin
pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi
perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Dalam
kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan
mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan.
Tipe-tipe
kepemimpinan pada umumnya adalah tipe kepemimpinan pribadi, Tipe kepemimpinan
non pribadi, tipe kepemimpinan otoriter, tipe kepemimpinan demokratis, tipe
kepemimpinan paternalistis, tipe kepemimpinan menurut bakat. Disamping tipe-tipe
kepemimpinan tersebut juga ada pendapat yang mengemukakan menjadi tiga tipe
antara lain : Otokratis, Demokratis, dan Laisezfaire. Faktor-faktor yang
mempengaruhi aktivitas pemimpin meliputi ; kepribadian (personality), harapan
dan perilaku atasan, karakteristik, kebutuhan tugas, iklim dan kebijakan
organisasi, dan harapan dan perilaku rekan. Yang selanjutnya bahwa
factor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kesuksesan pemimpin dalam
melaksanakan aktivitasnya.
TOKOH KEPEMIMPINAN :
BJ. Habibie
Menjadi presiden bukan karena keinginannya. Hanya karena kondisi sehingga ia
jadi presiden. Orang yang cerdas tapi terlalu lugu dalam politik. Karena ingin
terlihat bagus, ia membuat blunder dalam masalah timor timur.Sebenarnya gaya
kepemimpinan Presiden Habibie adalah gaya kepemimpinan Dedikatif-Fasilitatif, merupakan sendi dan Kepemimpinan Demokratik.
Kelebihan
:
Pada masa pemerintahan B.J Habibie ini,
kebebasan pers dibuka lebar-lebar sehingga melahirkan demokratisasi yang lebih
besar. Pada saat itu pula peraturan-peraturan perundang-undangan banyak dibuat.
Pertumbuhan ekonomi cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya Habiebi
sangat terbuka dalam berbicara tetapi tidak pandai dalam mendengar, akrab dalam
bergaul, tetapi tidak jarang eksplosif. Sangat detailis, Dalam bidang ekonomi,
pemerintahan Habibie berusaha keras untuk melakukan perbaikan.
Berikut beberapa peran yang dilakukan
oleh pemerintahan Habibie untuk memperbaiki perekonomian Indonesia antaranya :
Merekapitulasi
perbankan
Merekonstruksi
perekonomian Indonesia.
Melikuidasi
beberapa bank bermasalah.
Manaikan nilai
tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat hingga di bawah Rp.10.000,-
Mengimplementasikan
reformasi ekonomi yang diisyaratkan oleh IMF.
Kekurangan :
Gaya komunikasinya penuh spontanitas,
meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa mau memikirkan risikonya. Tatkala Habibie
dalam situasi penuh emosional, ia cenderung bertindak atau mengambil keputusan
secara cepat. Seolah ia kehilangan kesabaran untuk menurunkan amarahnya.
Bertindak cepat, rupanya, salah satu solusi untuk menurunkan tensinya.
Karakteristik ini diilustrasikan dengan kisah lepasnya Timor Timur dari
Indonesia. Habibie digambarkan sebagai pribadi yang terbuka, namun terkesan mau
menang sendiri dalam berwacana dan alergi terhadap kritik